Data Historis: Bitcoin Cenderung Tangguh Saat Konflik Berkecamuk
Meski disebut sebagai aset berisiko, data historis menunjukkan bahwa Bitcoin cenderung stabil bahkan menguat dalam masa konflik bersenjata besar. Dalam 10 tahun terakhir, berbagai peristiwa geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina (2022), konflik Israel-Gaza (2023), hingga eskalasi terbaru Israel-Iran (2025), tidak membuat harga Bitcoin jatuh dalam jangka panjang. Contohnya, pasca serangan rudal Israel ke Iran pada 13 Juni 2025, harga BTC sempat turun, namun pulih kembali dalam beberapa hari. Bahkan, perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, mengakuisisi 10.001 BTC senilai US$1 miliar pada 16 Juni, menunjukkan keyakinan institusional terhadap prospek jangka panjang aset ini.
“Konflik geopolitik meningkatkan ekspektasi inflasi global melalui lonjakan belanja fiskal, gangguan rantai pasok, dan kenaikan harga komoditas. Dalam jangka panjang, faktor-faktor ini cenderung menguntungkan Bitcoin,” ungkap Fyqieh.
Namun, Fyiqeh memperingatkan bahwa BTC tetap sensitif terhadap reaksi awal pasar terhadap perang, dengan kemungkinan tekanan jual sesaat setelah konflik pecah.
Konflik internal seperti perang Tigray (2020) atau kudeta Myanmar (2021) tidak berdampak signifikan terhadap harga Bitcoin. Hal ini menunjukkan bahwa dampak terhadap harga lebih ditentukan oleh kedekatan geopolitik dan keterlibatan pasar keuangan global.
Pergeseran Narasi Bitcoin
Seiring meningkatnya adopsi institusional dan kepemilikan BTC oleh entitas besar seperti BlackRock, Coinbase, dan bahkan pemerintah AS, Bitcoin kini semakin terkorelasi dengan pasar tradisional. Hal ini menjadikan BTC rentan terhadap tekanan pasar global, namun sekaligus memperkuat posisinya sebagai bagian dari sistem keuangan global yang lebih luas. Menurut Fyqieh, hal ini menjadi pertimbangan penting bagi investor. “Bitcoin tidak lagi berdiri sendiri seperti satu dekade lalu. Faktor makroekonomi dan geopolitik kini punya pengaruh besar terhadap harga. Tapi justru ini yang membuat BTC menjadi instrumen relevan untuk diversifikasi portofolio,” jelasnya. Bitcoin saat ini menghadapi resistansi di level US$106.500, dilanjutkan dengan zona US$108.800–US$110.000, dan resistansi kritis di US$112.000. Sementara itu, dukungan terdekat berada di kisaran US$102.000–US$103.000, dengan level psikologis US$100.000 sebagai penopang utama. Dukungan kritis jangka panjang berada di sekitar US$93.200, yang bertepatan dengan EMA 200 hari. Pasar kripto kini menantikan pertemuan The Fed berikutnya serta perkembangan konflik global yang masih terus berlangsung. Dengan kapitalisasi pasar kripto global yang tetap bertahan di US$3,25 triliun dan arus masuk ETF yang positif, peluang pemulihan harga tetap terbuka di tengah gejolak.Tentang Tokocrypto
Tokocrypto adalah pedagang aset kripto No.1 di Indonesia yang berdiri sejak 2018 dan terdaftar di OJK sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), serta menjadi anggota Bursa dan Kliring Kripto. Dengan dukungan dari Binance, Tokocrypto menawarkan layanan investasi kripto yang aman, transparan, dan mudah digunakan. Platform ini mencatat rata-rata nilai transaksi harian sebesar US$ 25 juta, menyediakan lebih dari 400 token/koin dan 600 pasangan perdagangan, serta telah dipercaya oleh lebih dari 4 juta pengguna di Indonesia. Informasi lebih lanjut, kunjungi: www.tokocrypto.com.
Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES