KALAMANTHANA, Sampit – Ancaman musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai terasa di dua sektor sekaligus. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali bermunculan, sementara sejumlah desa mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih hingga harus meminta bantuan pemerintah.

Dalam laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim pada Selasa (14/7/2026), tercatat lima titik kebakaran baru terjadi dalam sehari. Meski sebagian besar berhasil dipadamkan, petugas masih terus berjaga mengantisipasi munculnya titik api baru karena kondisi lahan yang semakin kering.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kerja cepat tim gabungan berhasil mencegah kebakaran meluas di sebagian besar lokasi. Namun, perkembangan di beberapa wilayah masih terus dipantau.

"Per hari ini sore terdapat lima titik kebakaran baru. Alhamdulillah sebagian besar sudah berhasil dipadamkan. Hanya saja untuk lokasi di wilayah Bagendang, Desa Ramban, dan Mentaya Selatan, kami masih menunggu laporan perkembangan dari petugas yang berada di lapangan," katanya.

Menurut Multazam, meningkatnya jumlah titik api menjadi peringatan bahwa risiko karhutla di Kotim kini memasuki fase yang lebih rawan. Cuaca panas, rendahnya kelembapan, serta minimnya hujan membuat lahan gambut mudah terbakar meski hanya dipicu api kecil.

Karena itu, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, relawan dan masyarakat terus memperkuat patroli di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan kebakaran. Langkah tersebut dilakukan agar api dapat dipadamkan sejak dini sebelum meluas ke area yang lebih besar.

Di sisi lain, dampak kemarau juga mulai dirasakan masyarakat melalui berkurangnya ketersediaan air bersih. Hingga pertengahan Juli, empat desa di wilayah selatan Kotim telah mengajukan permohonan distribusi air bersih kepada pemerintah.

Desa Reggei Lestari, Jaya Karet, Lampuyang, serta Kuin Permai menjadi daerah pertama yang melaporkan kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Untuk Desa Kuin Permai, proses administrasi masih berlangsung sebelum bantuan dapat disalurkan.

"Permohonan sudah kami terima dan langsung kami koordinasikan dengan Perumdam. Mudah-mudahan distribusi air bersih dapat segera dilaksanakan agar kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi," ujar Multazam.

BPBD memperkirakan setiap desa membutuhkan sekitar 15.000 hingga 20.000 liter air bersih dalam sekali distribusi. Jumlah itu disesuaikan dengan banyaknya warga terdampak dan kondisi sumber air di masing-masing desa.

Pemerintah daerah pun mulai menyiapkan langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Selain memastikan distribusi air bersih berjalan, BPBD juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api.

Dengan kondisi cuaca yang diperkirakan masih kering dalam beberapa waktu ke depan, BPBD menilai kewaspadaan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk mencegah karhutla meluas sekaligus mengurangi dampak kekeringan yang mulai dirasakan di berbagai wilayah Kotim. (su)