KALAMANTHANA, Tamiang Layang – Festival Nariuk VI di Lubuk Ulu Padang, Desa Pulau Patai, Kecamatan Dusun Timur, berlangsung semarak pada Sabtu (25/7/2026) dengan diikuti 269 peserta. Ajang budaya tahunan ini kembali menegaskan dominasi Desa Simpang Bingkuang setelah Mafson berhasil menangkap ikan seberat 6,3 kilogram, disusul Ariston dengan tangkapan 6 kilogram.  

Kemenangan keduanya mengantarkan Desa Simpang Bingkuang menyabet predikat Juara Umum Festival Nariuk VI. Posisi ketiga ditempati Arwan dari Desa Lebo dengan tangkapan 5,7 kilogram, diikuti Ane Ristanto dari Desa Lebo (5,5 kg), Sangumangi dari Desa Jaar (4,8 kg), dan Sandi dari Desa Runggu Raya (4,4 kg).  

Untuk kategori tercepat, Andi Setiawan dari Desa Tewah Pupuh mencatatkan waktu 50,9 detik sejak festival dimulai hingga memperoleh hasil tangkapan.  

Ketua Panitia, Sandro, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang berkompetisi secara sportif sekaligus menjaga kelestarian tradisi Nariuk. “Semoga Festival Nariuk terus menjadi agenda budaya yang semakin besar setiap tahunnya,” ujarnya.  

Festival dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Barito Timur, Adi Mula Nakalelu, melalui prosesi penancapan tariuk bersama Kepala Desa Pulau Patai, Sumardi, dan tokoh adat. Ratusan peserta kemudian serentak turun ke sungai untuk mengikuti tradisi menangkap ikan menggunakan tariuk.  

Selain atraksi budaya, festival diramaikan bazar UMKM, hiburan musik, dan undian door prize yang menyedot antusiasme masyarakat. Wabup Adi menegaskan bahwa Festival Nariuk bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pelestarian budaya, penguatan kebersamaan masyarakat, dan penggerak ekonomi desa.  

Kepala Desa Pulau Patai, Sumardi, menambahkan bahwa festival ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Barito Timur, Disbudparpora, Karang Taruna, BPBD Damkar, perusahaan, donatur, serta DPC Pemuda Tani Indonesia Barito Timur yang mendukung penyelenggaraan festival.  

Festival Nariuk merupakan tradisi masyarakat Dayak Barito Timur yang diwariskan turun-temurun. Selain menjaga kearifan lokal, kegiatan ini dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan, memperkuat kebersamaan masyarakat, dan menggerakkan ekonomi desa melalui UMKM serta pariwisata. (Anigoru).