KALAMANTHANA, Sampit – Pemandangan memilukan terlihat di salah satu perairan Desa Sebungsu, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Timur.

Lokasi yang selama ini dikenal sebagai salah satu spot mancing justru berubah menjadi hamparan ikan mati.

Berdasarkan video yang beredar, ikan dalam jumlah sangat banyak terlihat mengapung di permukaan perairan. Bangkai ikan tampak tersebar di sejumlah bagian aliran air, menciptakan pemandangan yang mengundang keprihatinan.

Sebagian besar ikan yang terlihat dalam rekaman merupakan ikan berukuran kecil. Banyaknya ikan yang mati dalam satu kawasan menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ekosistem perairan Sebungsu.

Temuan tersebut pertama kali mendapat perhatian dari Adytia, seorang penghobi mancing yang berada di sekitar lokasi. Ia mengaku sangat menyayangkan kondisi perairan yang sebelumnya menjadi salah satu tempat favorit bagi para pemancing.

“Jujur sangat menyayangkan melihat kondisi seperti ini. Ikan sebanyak itu seharusnya masih bisa tumbuh dan berkembang, bukan malah mati sia-sia. Kalau memang ada yang menangkap ikan dengan cara seperti itu, dampaknya bukan hanya untuk ikan, tapi seluruh kehidupan di perairan,” ungkap Adytia, Senin 31 Agustus 2026.

Menurutnya, kawasan tersebut selama ini memiliki potensi ikan yang cukup melimpah. Salah satu jenis yang menjadi daya tarik pemancing adalah ikan gabus berukuran besar.

Keberadaan ikan-ikan tersebut membuat perairan Sebungsu tidak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi juga menjadi lokasi yang kerap didatangi penghobi mancing untuk menikmati suasana alam.

Namun, kondisi terkini membuat kekhawatiran mulai muncul. Jika kematian ikan dalam jumlah besar terus terjadi, populasi ikan dikhawatirkan semakin berkurang dan pada akhirnya menghilangkan potensi perairan tersebut.

Adytia juga menduga kematian ikan berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan menggunakan racun yang disebut masih terjadi di kawasan tersebut. Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

“Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, kita sendiri yang akan kehilangan. Ikan besar bisa semakin sulit ditemukan dan tempat yang selama ini menjadi andalan pemancing juga bisa rusak. Jangan sampai sekarang masih banyak ikan, tetapi beberapa tahun lagi sudah tidak ada apa-apanya,” ujarnya.

Kematian ikan secara massal juga menjadi perhatian karena dampaknya tidak berhenti pada hilangnya ikan. Jika benar terjadi akibat pencemaran atau penggunaan bahan berbahaya, kondisi tersebut berpotensi mengganggu organisme lain yang hidup di dalam perairan.

Pihak berwenang pun perlu melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab kematian ikan tersebut.

Pemeriksaan di lapangan dinilai penting untuk mengetahui apakah kematian ikan benar berkaitan dengan aktivitas meracun, pencemaran, atau faktor lain. Dengan begitu, penyebabnya tidak hanya menjadi dugaan berdasarkan rekaman yang beredar.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa kekayaan perairan tidak bisa dimanfaatkan secara sembarangan. Cara menangkap ikan yang merusak dapat mengancam keberlangsungan populasi ikan dan merusak lingkungan yang manfaatnya dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Warga dan penghobi mancing berharap perairan Sebungsu tetap terjaga. Jangan sampai lokasi yang dahulu menjadi tempat berburu ikan dan menikmati alam justru dikenang sebagai kawasan yang kehilangan kehidupan akibat ulah manusia.

Kini, kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat. Harapannya, dugaan kematian massal ikan dapat segera ditelusuri dan apabila ditemukan adanya pelanggaran, dapat ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. (su)