KALAMANTHANA, Purwakarta – Tantangan di musim kemarau panjang makin kompleks seiring meningkatnya tekanan perubahan iklim dan serangan penyakit tanaman. Kondisi tersebut menuntut petani memilih varietas yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap kondisi ekstrem.

Glenn Pardede, yang baru saja menyelesaikan masa tugasnya sebagai Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo), mengatakan bahwa tantangan tersebut mendorong Ewindo untuk terus memperkuat riset dan inovasi guna menghadirkan varietas unggul yang relevan dengan kebutuhan petani di lapangan.

“Kami terus melakukan riset dan pengembangan untuk mendapatkan varietas unggul yang adaptif dengan iklim tropis Indonesia, berkualitas tinggi, tahan terhadap penyakit, memiliki potensi produksi besar, dan umur panen yang genjah,” ujar Glenn.

Di bawah kepemimpinan Glenn Pardede selama lebih dari dua dekade, Ewindo membangun keyakinan bahwa teknologi dan inovasi harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Filosofi tersebut kemudian menjadi fondasi budaya perusahaan yang dikenal melalui semangat “Sahabat Petani yang Paling Baik.”

Berangkat dari filosofi tersebut, Ewindo memperkuat investasi pada riset dan inovasi melalui pembangunan fasilitas Research & Development (R&D) benih hortikultura terbesar dan terlengkap di Indonesia. Fasilitas tersebut didukung teknologi modern untuk menghasilkan benih yang andal, berdaya hasil tinggi, berkualitas unggul, serta dapat dikembangkan lebih cepat.

Melalui pemanfaatan berbagai teknologi, salah satunya teknologi penanda molekuler, Ewindo telah menghasilkan hampir 500 varietas benih unggul. Lebih dari 200 varietas di antaranya telah resmi terdaftar dan dimanfaatkan oleh petani Indonesia, mencerminkan komitmen perusahaan untuk menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Benih yang dihasilkan juga memiliki sertifikasi kelas dunia seperti ISO 9001:2008, ISTA, dan LSSM-BPTH.

Sebagian hasil riset tersebut hadir dalam varietas yang dekat dengan kebutuhan petani saat ini. Di antaranya tomat TYSON F1, SERVO F1, dan GUSTAVI F1, cabai merah keriting LABA TAVI F1, cabai besar PILAR F1 dan GADA EVO F1, terong M 72, kubis TALENTA dan PM 48, serta oyong ANGGUN TAVI F1 yang dikenal memiliki performa unggul, produktivitas tinggi, dan mampu menjawab berbagai tantangan budidaya di lapangan.

Namun bagi Ewindo, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari jumlah varietas yang dihasilkan, melainkan dari sejauh mana inovasi tersebut mampu membantu petani bertahan, berproduksi, dan memperoleh hasil yang lebih baik. “Teknologi perbenihan tidak bermakna tanpa dampak langsung pada kesejahteraan petani,” tegas Glenn.

Filosofi “Sahabat Petani yang Paling Baik” kemudian diwujudkan melalui penguatan pendampingan dan transfer pengetahuan kepada petani.

Di bawah kepemimpinan Glenn Pardede, Ewindo memperkuat peran Product Promotor (PP) sebagai ujung tombak perusahaan yang hadir langsung di lapangan untuk mendampingi petani.

Selama masa kepemimpinannya, Ewindo membangun jaringan hampir 200 Product Promotor (PP) yang tersebar di berbagai provinsi sentra hortikultura Indonesia.

Sebagai tim lapangan yang berinteraksi langsung dengan petani setiap hari, PP berperan dalam mendampingi praktik budidaya, berbagi pengetahuan, serta membantu petani menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Melalui jaringan inilah Ewindo menjaga kedekatan dengan petani sekaligus memastikan berbagai inovasi yang dikembangkan tetap relevan dengan kebutuhan mereka.

Pendekatan tersebut membuahkan dampak yang luas. Di bawah kepemimpinan Glenn, Ewindo telah membersamai sekitar 7 juta “Sahabat Petani” di seluruh Indonesia.

Akses benih diperluas ke lebih dari 3.000 titik dan diperkuat oleh lebih dari 20.000 kegiatan pendampingan lapangan yang dilakukan secara konsisten.

Komitmen untuk membangun pertanian yang berkelanjutan juga diwujudkan melalui pelayanan bersama Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) yang selama ini merupakan perpanjangan tangan Ewindo dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan pertanian berkelanjutan.

Di bawah kepemimpinan Glenn Pardede, YBTS berkembang dengan hampir 100 tim pendamping yang berfokus mendampingi petani di daerah terpencil, khususnya kawasan Indonesia Timur.

Kehadiran tim pendamping tersebut membantu menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pengetahuan dan pendampingan pertanian, sekaligus memperkuat kapasitas petani dan ketahanan pangan di wilayah-wilayah tersebut.

Di saat yang sama, Ewindo juga membawa semangat pertanian lebih dekat ke masyarakat melalui berbagai inisiatif urban farming yang telah melibatkan lebih dari 10.000 masyarakat perkotaan. Upaya tersebut turut memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pertanian, pangan sehat, dan keberlanjutan lingkungan.

Di luar perusahaan, Ewindo juga aktif membangun kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem pangan nasional. Lebih dari 100 kolaborasi telah dijalin bersama berbagai pemangku kepentingan. Kontribusi Glenn juga hadir melalui keterlibatan aktifnya di Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Komite Hortikultura Kadin, Apindo, serta berbagai organisasi lainnya di bidang akademik, filantropi, dan pengembangan masyarakat.

Seluruh upaya tersebut menunjukkan satu keyakinan yang terus dijaga selama masa kepemimpinan Glenn Pardede, yaitu bahwa kemajuan pertanian hanya dapat dicapai melalui sinergi antara riset, teknologi, petani, edukasi, komunitas, dan kolaborasi yang saling menguatkan.

Di bawah kepemimpinan Glenn Pardede, Ewindo tidak hanya memperkuat fondasi riset dan inovasi, tetapi juga membangun budaya perusahaan yang menempatkan petani sebagai pusat dari setiap keputusan dan pengembangan. Fondasi tersebut tercermin melalui penguatan R&D, kedekatan dengan petani, perluasan transfer pengetahuan melalui jaringan PP, pengembangan masyarakat melalui YBTS, serta kolaborasi untuk membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang akan terus menguji ketangguhan sektor pertanian Indonesia, fondasi tersebut menjadi bekal penting bagi Ewindo untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan dan melanjutkan perannya sebagai “Sahabat Petani yang Paling Baik.” (*)