KALAMANTHANA, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Pramuka hingga Jalan Saudara, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, meluas hingga mendekati permukiman warga.

Sebuah pondok dilaporkan hangus terbakar di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti Kota Sampit.

Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor turun langsung ke lokasi kebakaran pada Jumat 23 Oktober 2026, untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus membantu upaya pemadaman.

Kehadiran orang nomor satu di Kotawaringin Timur itu dilakukan menyusul munculnya kembali titik api di kawasan perkotaan yang turut memperburuk kondisi asap dalam beberapa hari terakhir.

Kebakaran tersebut mulai terjadi sejak Kamis 22 Oktober 2026. Api yang membakar lahan terus menjadi perhatian karena lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal masyarakat.

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan api merembet lebih jauh apabila tidak segera dikendalikan.

Halikinnor mengatakan, penebalan kabut asap di wilayah perkotaan dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian pemerintah daerah. Saat meninjau lokasi, ia mendapati adanya titik api baru di kawasan Jalan Pramuka dan Jalan Saudara.

"Jadi kita melihat kondisi tiga hari terakhir ini memang sepertinya asap agak menebal di daerah perkotaan. Ternyata muncul lagi titik api baru, seperti di Jalan Pramuka dan Jalan Saudara ini," ujar Halikinnor.

Menurutnya, kabut asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya dipengaruhi kebakaran di sekitar perkotaan. Kebakaran di wilayah selatan juga berpotensi membawa asap ke pusat kota, bergantung pada arah pergerakan angin.

Asap dari kawasan tersebut dapat terbawa angin laut menuju Sampit. Karena itu, meskipun pemadaman telah dilakukan di sejumlah titik, kondisi udara masih berpotensi memburuk selama kebakaran terus terjadi di wilayah lain.

Pemerintah Kabupaten Kotim terus memberikan perhatian terhadap penanganan karhutla, terutama pada titik api yang berada dekat dengan permukiman. Penanganan di lapangan menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas dan mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat.

Selain ancaman kobaran api, kebakaran lahan juga menimbulkan persoalan lain berupa kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas warga. Jarak pandang pengguna jalan berpotensi menurun ketika asap pekat menutupi ruas jalan, sehingga pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan saat melintas.

Dampak terhadap kesehatan juga menjadi perhatian. Paparan asap kebakaran dapat memicu iritasi mata dan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta masyarakat yang rentan terhadap gangguan saluran pernapasan.

Pemadaman karhutla juga memerlukan penanganan menyeluruh, khususnya apabila kebakaran terjadi di lahan gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran di permukaan telah mereda. Kondisi tersebut memungkinkan api kembali muncul apabila masih terdapat titik panas yang belum sepenuhnya padam.

Karena itu, proses pemadaman perlu disertai pendinginan dan pemantauan ulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Pengawasan juga diperlukan di sekitar kawasan permukiman agar potensi kebakaran susulan dapat diketahui lebih dini.

Peristiwa di Jalan Pramuka hingga Jalan Saudara menjadi perhatian karena api tidak hanya membakar lahan, tetapi juga mendekati rumah warga hingga menghanguskan sebuah pondok. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penanganan cepat dan kewaspadaan bersama di tengah kabut asap yang masih menyelimuti Sampit.

Pemerintah daerah bersama petugas terkait diharapkan terus memperkuat pemantauan titik api dan mengantisipasi potensi kebakaran baru.

Masyarakat juga diminta berhati-hati serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api di sekitar tempat tinggal mereka. (su)