KALAMANTHANA, Sampit – Setelah berbulan-bulan diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), suasana di Kabupaten Kotawaringin Timur) mulai menunjukkan perubahan.

Langit di Kota Sampit yang sebelumnya kelabu kini perlahan kembali membiru. Jarak pandang di sejumlah ruas jalan pun semakin terbuka.

Perubahan tersebut menjadi pemandangan yang melegakan bagi masyarakat. Setelah cukup lama harus menjalani aktivitas di tengah kepungan asap, warga kini mulai merasakan suasana yang lebih nyaman saat berada di luar rumah.

Di Kota Sampit, kondisi langit terlihat lebih cerah dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

Kabut yang sempat membatasi pandangan dan membuat suasana kota tampak suram mulai berkurang.

Sejumlah ruas jalan juga mulai terlihat lebih jelas tanpa tertutup lapisan asap tebal.

Kondisi ini turut memberikan kenyamanan bagi pengendara, terutama mereka yang setiap hari harus menempuh perjalanan untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lainnya.

Warga Sampit, Santi, mengatakan perubahan tersebut cukup terasa setelah masyarakat melewati masa panjang dengan kondisi udara yang kurang baik.

Menurutnya, langit yang mulai terlihat biru menjadi pemandangan yang sudah lama dinantikan.

“Sekarang sudah mulai terasa perbedaannya. Biasanya langit terlihat putih keabu-abuan karena asap, tetapi sekarang sudah mulai biru. Keluar rumah juga terasa lebih nyaman karena pandangan tidak lagi terlalu terhalang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kabut asap sebelumnya cukup mengganggu kehidupan sehari-hari. Selain membatasi jarak pandang, kondisi tersebut juga membuat masyarakat harus lebih berhati-hati ketika berkendara dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pemantauan Kualitas Udara (ISPUNet) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Jumat (30/10/2026), indeks pencemaran udara di Kotim tercatat 104 untuk parameter PM2,5 dan 68 untuk PM10.

Angka tersebut menunjukkan penurunan cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 1.000.

Meski demikian, kualitas udara belum sepenuhnya pulih sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan menjaga kesehatan.

Di sisi lain, berkurangnya kabut asap tidak serta-merta menandakan ancaman karhutla telah berakhir. Kawasan gambut masih menyimpan potensi bara di bawah permukaan tanah yang sewaktu-waktu dapat kembali memicu kebakaran apabila tidak ditangani secara menyeluruh. (su)