KALAMANTHANA, Jakarta – Seorang wanita Israel menyerang Menteri Keamanan, Itamar Ben-Gvir. Dia menuding rezim Benjamin Netanyahu seperti Nazi.
Aksi wanita tersebut terekam dalam sebuah rekaman yang diunggah jaringan televisi Aljazeera di akun Instagram mereka, @aljazeeraenglish.
Wanita Israel tersebut, mengenakan baju berwarna hijau kekuningan, mengkonfrontasi Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir saat datang ke Arad, kawasan yang baru saja menjadi sasaran misil Iran.
Sang wanita berteriak kencang. “Seluruh yang kalian lihat hanyalah kematian,” katanya meskipun mendapat penghadangan dari petugas keamanan Israel.
Dalam serangan tersebut, belasan orang terluka. Wanita itu menuding rezim Benjamin Netanyahu menyiram minyak ke bara konflik dengan Iran.
“Kalian tak ada urusan di sini. Keluar dari kehidupan kami. Kalianlah yang bertanggung jawab atas kematian ini,” tegasnya.
Dia bahkan menuding rezim Israel sebagai Nazi. “Kalian adalah Judeo-Nazi,” tambahnya.
Iran sendiri menyerang fasilitas nuklir di Kota Dimona, Israel selatan, pada hari sebelumnya, sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap situs atom Natanz milik Iran.
Simiari menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara langsung dengan stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB TV.
Dia menuturkan, serangan itu dilancarkan kurang dari 24 jam setelah Israel menyerang fasilitas Natanz di Provinsi Isfahan, Iran tengah.
Simiari menyatakan strategi "mata ganti mata" (eye for an eye) baru Iran mencakup pembalasan dengan respons resiprokal, tetapi intensitasnya lebih tinggi, terhadap setiap tindakan militer yang dilakukan oleh Israel.
Menurut pejabat medis Israel, lebih dari 30 orang terluka akibat serangan rudal Iran di Dimona.
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menyatakan tidak ada indikasi kerusakan pada pusat penelitian nuklir Israel di Negev pascaserangan rudal di Dimona.
“Informasi dari negara-negara di kawasan menunjukkan bahwa tidak ada tingkat radiasi abnormal yang terdeteksi,” sebut IAEA melalui media sosial pada Sabtu (21/3) malam.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, terus memantau situasi tersebut dengan cermat dan menekankan bahwa menahan diri secara maksimal untuk tidak melakukan aksi militer harus dilakukan, terutama di sekitar fasilitas nuklir.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran, yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah pangkalan dan aset AS di Timur Tengah. (*)