KALAMANTHANA, Kuala Kapuas - Bupati Kapuas H Muhammad Wiyatno secara resmi melepas peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) XXIII Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas Tahun 2026, Selasa (28/7/2026).

Pelepasan mahasiswa KKN dirangkai dengan pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) KKN yang berlangsung di Aula Auditorium STAI Kuala Kapuas. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas Usis I Sangkai, pimpinan STAI Kuala Kapuas, dosen pembimbing, serta para mahasiswa peserta KKN.

KKN STAI Kuala Kapuas tahun ini mengusung tema "Pemberdayaan Desa dan Penguatan Pendidikan Islam Berkelanjutan Berlandaskan Falsafah Huma Betang." Sebanyak 139 mahasiswa mengikuti program tersebut, terdiri atas 53 mahasiswa laki-laki dan 86 mahasiswa perempuan.

Seluruh peserta akan melaksanakan pengabdian di 20 desa dan kelurahan yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kapuas Hilir sebanyak dua desa, Kecamatan Pulau Petak tujuh desa, dan Kecamatan Kapuas Murung sebanyak 11 desa.

Dalam sambutannya, Bupati Muhammad Wiyatno mengatakan KKN merupakan momentum yang sangat baik bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari kehidupan masyarakat sekaligus mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama di bangku kuliah.

Menurutnya, selama berada di lokasi KKN para mahasiswa akan dihadapkan dengan berbagai persoalan di tengah masyarakat, mulai dari bidang sosial, pendidikan, ekonomi, keagamaan, lingkungan hingga pemberdayaan masyarakat.

"Semua itu merupakan ruang pembelajaran yang sangat berharga dan tidak akan diperoleh hanya di ruang kelas," ujar Wiyatno.

Ia pun berpesan kepada seluruh peserta KKN agar senantiasa menjaga nama baik almamater, keluarga, dan daerah. Selain itu, mahasiswa diminta menunjukkan akhlak yang santun, disiplin, jujur, serta penuh tanggung jawab selama melaksanakan pengabdian di masyarakat.

Sementara itu, Ketua STAI Kuala Kapuas H Ushansyah mengatakan seluruh mahasiswa terlebih dahulu mengikuti bimbingan teknis sebelum diterjunkan ke lokasi KKN. Pembekalan tersebut bertujuan memberikan pemahaman mengenai etika bermasyarakat serta berbagai aspek teknis pelaksanaan KKN.

"Termasuk memberikan pemahaman tentang tata kelola program kerja, kepemimpinan, komunikasi, administrasi, penyusunan laporan, serta berbagai keterampilan yang diperlukan agar pelaksanaan KKN berjalan dengan baik, efektif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya.

Ushansyah juga berpesan agar seluruh peserta menjadikan KKN sebagai sarana belajar yang sesungguhnya. Mahasiswa diminta mendengarkan aspirasi masyarakat, memahami kebutuhan mereka, kemudian menghadirkan program-program yang realistis, inovatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (fan)