KALAMANTHANA, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan alias karhutla di Kotawaringin Timur membuat repot dunia penerbangan. Bagaimana nasib penerbangan Super Air Jet?

Dampak karhutla di Kotawaringin Timur mulai merambah sektor transportasi udara. Kabut asap yang menyelimuti wilayah setempat sempat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandar Udara H Asan Sampit, termasuk penerbangan Super Air Jet.

Gangguan penerbangan tersebut terjadi pada Sabtu 22 Agustus 2026. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebaran asap tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga dapat menurunkan jarak pandang bagi penerbangan Super Air Jet.

Pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU350 rute Jakarta-Sampit bahkan harus melakukan Return to Base (RTB) atau kembali ke bandara asal.

Pesawat tidak melanjutkan proses pendaratan setelah kondisi di sekitar Bandara H Asan Sampit dinilai tidak memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan dengan aman.

Dampak tersebut kemudian berlanjut pada penerbangan sebaliknya. Penerbangan IU351 rute Sampit-Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 14.50 WIB akhirnya dibatalkan.

Keputusan tersebut dilakukan dengan mengutamakan faktor keselamatan. Dalam penerbangan, kondisi jarak pandang menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan, terutama ketika pesawat melakukan pendekatan untuk mendarat maupun saat akan lepas landas.

Tim Captain Bandara H Asan Sampit, Alfiansyah, membenarkan bahwa gangguan penerbangan memang terjadi sehari sebelumnya. Namun, kondisi operasional pada Minggu 23 Agustus 2026 telah kembali normal.

“Iya, benar kemarin sempat terganggu. Untuk penerbangan hari ini berjalan seperti biasanya,” ujar Alfiansyah, Minggu.

Kembalinya penerbangan secara normal menjadi kabar positif bagi masyarakat Kotim, terutama pengguna jasa transportasi udara.

Aktivitas penerbangan menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dari Sampit menuju sejumlah daerah maupun sebaliknya.

Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kabut asap. Selama karhutla masih terjadi, perubahan arah angin dapat membawa asap ke kawasan lain, termasuk wilayah perkotaan dan sekitar Bandara H Asan Sampit.

Karena itu, kondisi cuaca dan jarak pandang tetap menjadi perhatian dalam operasional penerbangan. Jika kondisi kembali memburuk, jadwal penerbangan dapat mengalami penyesuaian demi memastikan keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Gangguan yang terjadi di Bandara H Asan juga memperlihatkan bahwa dampak karhutla semakin luas.

Persoalan kebakaran lahan tidak hanya menyangkut kesehatan dan kualitas lingkungan, tetapi dapat merembet pada aktivitas pendidikan, transportasi, hingga konektivitas ekonomi daerah.

Bagi calon penumpang, kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan jarak pandang. Memantau informasi dari maskapai dan pihak bandara menjadi penting, khususnya ketika kabut asap masih berpotensi muncul di sekitar wilayah penerbangan.

Saat ini, aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit kembali berjalan normal. Namun, ancaman kabut asap masih menjadi perhatian di tengah karhutla yang belum sepenuhnya terkendali di Kotim. (su)