KALAMANTHANA, Sampit – Kotawaringin Timur seperti sedang dikepung ancaman api. Di berbagai wilayah, ratusan titik panas terdeteksi ketika langit masih kering dan hujan belum menunjukkan tanda akan turun.

Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berada di level tinggi.

Bukan hanya satu atau dua titik, dalam pemantauan selama 24 jam hingga Kamis (27/8/2026) pukul 07.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 866 hotspot di wilayah Kotim.

Angka tersebut muncul di saat kondisi alam sedang tidak bersahabat. Berdasarkan pemantauan Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit BMKG, tidak terdapat potensi pertumbuhan awan hujan di Kotim mulai Kamis (27/8) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (28/8/2026) pukul 07.00 WIB.

Langit masih bertahan kering, sementara lahan semakin rentan terbakar.

Situasi itu menjadi alarm serius karena hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Bahkan pada Jumat (28/8/2026), seluruh wilayah Kalteng diprakirakan berada dalam kategori sangat mudah terbakar.

Kepala Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, meminta kondisi tersebut menjadi perhatian bersama. Menurutnya, potensi hujan yang belum terlihat membuat kewaspadaan terhadap karhutla harus terus diperkuat.

“Berdasarkan pemantauan BMKG, hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah pada 27 Agustus berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena potensi hujan masih belum terlihat,” ujarnya, Jumat 28 Agustus 2026.

Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah sebaran titik panas yang tidak hanya muncul di satu kawasan. Hotspot terdeteksi di sejumlah kecamatan dengan jumlah yang cukup besar.

Kini, Kotim menghadapi kombinasi yang mengkhawatirkan: 866 hotspot terdeteksi, sekitar 1.686 hektare lahan telah terbakar, sementara hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan turun.

Ancaman itu masih berada di depan mata. Selama langit belum membuka peluang hujan dan lahan tetap berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, setiap titik panas berpotensi menjadi awal dari persoalan yang jauh lebih besar.

Kotim belum bisa bernapas lega. Api mungkin belum terlihat di setiap titik, tetapi alarmnya sudah berbunyi dari berbagai penjuru. (su)