KALAMANTHANA, Muara Teweh – Barito Utara baru saja digoyang urusan dugaan penipuan arisan menurun. Apa itu? Bagaimana risikonya?
Arisan bodong dalam sistem arisan menurun membuat heboh Barito Utara setelah korban melaporkan kasusnya ke Polres Barito Utara. Dari pelaporan itu, seorang wanita berusia 44 tahun, KDA, ditetapkan jadi tersangka.
KDA ditangkap aparat Polres Barito Utara yang menerima pengaduan atas dugaan tindak pidana penipuan yang membuat korbannya mengalami kerugian ratusan juta rupiah.
Adalah AP (44) yang melaporkan KDA ke Polres Barito Utara. Dia mengaku mengalami kerugian setelah mengikuti penawaran arisan menurun yang disampaikan KDA.
Apa sih arisan menurun? Sistem arisan menurun adalah modifikasi dari arisan konvensional.
Dalam sistem arisan menurun, setiap anggota membayar jumlah iuran dan menerima total uang (tarikan) yang berbeda-beda, tergantung pada nomor urutan kapan mereka mendapatkan giliran tarikan.
Berbeda dengan arisan biasa yang nominal iuran dan tarikannya selalu sama untuk semua orang, sistem menurun ini menggunakan skema ekonomi di mana waktu tarikan menentukan keuntungan atau kerugian anggota.
Cara Kerja Arisan Menurun
Dalam sistem ini, bandar atau pengelola arisan akan membuat daftar nomor urut (misalnya nomor 1 sampai 10). Setiap nomor memiliki ketentuan iuran yang berbeda:
1.Nomor Urut Atas (Awal)
Anggota yang mengambil nomor 1 atau 2 akan mendapatkan uang tarikan paling cepat, tetapi mereka harus membayar iuran yang paling besar/mahal hingga periode arisan selesai.
2.Nomor Urut Tengah
Anggota membayar iuran dalam jumlah standar/sedang.
3.Nomor Urut Bawah (Akhir)
Anggota yang mendapat giliran tarikan paling terakhir akan membayar iuran yang paling kecil/murah, namun mereka mendapatkan total tarikan yang utuh atau bahkan lebih besar.
Simulasi Sederhana
Agar pemahaman lebih utuh, bisa saja diberikan contoh simulasi sederhana arisan menurun dengan total tarikan Rp10 juta untuk 5 orang peserta.
Peserta No. 1 (Tarik Bulan ke-1): Dapat Rp10 juta di awal, tetapi wajib membayar iuran sebesar Rp2,5 juta setiap bulan. Total yang ia bayar hingga akhir adalah Rp12,5 juta (rugi Rp2,5 juta sebagai "bunga" karena memakai uang duluan).
Peserta No. 5 (Tarik Bulan ke-5): Dapat Rp10 juta di akhir, tetapi ia hanya perlu membayar iuran Rp1,5 juta setiap bulan. Total yang ia bayar hingga akhir hanya Rp7,5 (untung Rp2,5 juta sebagai imbalan karena mau menunggu lama).
Sistem Ini Sangat Berisiko
Meskipun sekilas terlihat adil karena mengadopsi sistem mirip bunga pinjaman dan tabungan, arisan menurun sangat rawan berujung pada arisan bodong.
Sistem Ponzi (Gali Lubang Tutup Lubang)
Keuntungan besar yang didapatkan oleh nomor-nomor urut akhir sebenarnya dibayarkan dari uang iuran mahal para peserta nomor awal. Jika tidak ada peserta baru yang masuk atau pendaftar nomor urut atas berkurang, perputaran uang akan macet.
Risiko Anggota Atas Kabur
Peserta yang mendapat tarikan di nomor awal sering kali mendadak hilang atau berhenti membayar iuran setelah mereka mendapatkan uangnya. Akibatnya, peserta di nomor bawah tidak bisa mendapatkan hak uang mereka.
Adanya "Slot Fiktif"
Banyak bandar nakal membuat nama-nama palsu di nomor urut atas untuk meraup uang tunai di awal, kemudian menutup arisan dan membawa kabur uang para peserta nomor bawah yang sudah rajin mencicil.
Tidak Ada Payung Hukum
Kegiatan ini tidak diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika bandar kabur, uang korban sangat sulit untuk kembali utuh meskipun pelaku sudah dilaporkan ke polisi.